( Gambar from http://galeri14.uludagsozluk.com)
Ini berawal dari perantawan ku di malam hari dengan kendaraan yang kadang mogok.ah aku tak akan bahas tentang motor ku kali ini nantinya berujung sedih hehe aku tak suka kesedihan di umbar - umbar apalagi soal pribadi wuhaha...
Tik..tik..ini suara hujan cerita nya hehe Aku terpaksa berhenti di tengah perjalanan karena lebatnya hujan membasahi. " Ah kampret, sial " aku pun berceloteh kesal perjalanan ku harus Ditunda.
Aku berhenti dipinggir jalan di bawah di depan toko toko dengan atap yang terbuat dari asbes, Ku keluarkan sebatang rokok dari kantung celana ku,
"ah sial " setelah ku cari cari aku tak menemukan Korek api di kantong dan tas ku, korek api untuk menyalakan rokok yang satu satunya menemani dikala hujan deras ini,
Aku lirik kanan kiri, ku lihat seorang pemuda dengan tas Baduy ah apa nama tas itu tas Koja kalau tak salah,
Aku dekati pemuda yang senasib dengan ku merasakan dingin hujan di tengah malam sepi, tujuan ku meminta api Dari pemuda ini. aku pun mendekatinya dan ku katakan,
"Bang punten, boleh pinjam korek apinya" kata ku
"Oh iyah Bang ini koreknya", Pemuda ini dengan santun memberikan korek apinya pada ku.
Setelah sebatang rokok yang ku miliki bisa ku nikmati, aku pun mengbalikan korek api nya kembali " terimakasih bang" ucap ku.
Hisapan demi hisapan rokok ku hembuskan, aku mulai bertanya kepada pemuda ini " abang siapa namanya bang " tanya ku.
"Saya Jomblo" ucapnya dengan ketawa kecil, kemudian dia menjelaskan " saya sering di panggil jomblo sama kawan kawan saya, itu nama panggilan popular saya katanya.
Kami pun bercakap mulai dari perkenalan dan asal usul tempat tinggal kami, yang membuat ku jengkel sekaligus penasaran dia tak mau memberi tahu jurusan kuliahnya yang dia katakan saya jurusan hukum rimba. Akhirnya aku pun tak banyak berkomentar tentang hal itu.
Aku pun tak tahu bisa bisanya orang ini langsung akrab dengan ku, mungkin dengan gaya dan bahasa komunikasi nya yang membuat kami langsung ngobrol bagai tak ada sekat di antara kami.
Aku teringat dia sedang mengurusi skripsinya dan kesal katanya karena di benturkan oleh fasilitas, " saya bisa ngerjain skripsi 2 Minggu seandainya fasilitas mendukung, skripsi itu butuh komputer bro, Duit buat ngeprin, motokopi, satu lagi rokok harus mendampingi. Ungkap dia dengan ketawa ringan.
"Judul skripsi Abang tentang apa ?", Tanya ku.
"Skripsi Gua tentang kebijakan Bupati terhadap desa ungkapnya", ah aku lupa jelasnya judul skripsi dia.
Yang jelas dia menyinggung kebijakan Bupati terhadap apa yang harus di lakukan desa.
Dia meceritakan di Banten bulan - bulan kemarin ada 16 kepala desa yang di panggil kejaksaan dengan dalih penyelewengan dana desa,
"saya cermati ini bukan semata kesalahan Kepala Desa tapi justru kenapa kemudian Kepala desa di panggil, menurut analisis saya, ini di karenakan mereka protes terhadap kebijakan Bupati yang tidak logis, Misalnya, Desa harus membuat tempat sampah di desa, buat apa !, ga guna !. Motor grobak katanya buat ngangkut sampah di kampung - kampung, ga guna !, Iyah aja kalau di perkotaan mungkin berguna mendingan dana tersebut buat di bagikan ke masyarakat desa aja..hahaha ..dia tertawa dengan lepas.
Kepala desa beserta perangkat nya belakang ini selalu di pojokan entah di tempat obrolan santai depan rumah warga bahkan sampai media media semuanya mengangkat kepala desa menzolimi masyarakatnya terlebih di Banten Selatan.
Seandainya kita cermati secara mendasar, berapa sih gaji aparatur desa, mungkin masih sulit untuk memenuhi kebutuhan sehari hari.
Di samping itu kebijakan di atasnya, yang kadang tak logis tapi harus saja di turuti. Lanjut Mahasiswa Yang Mengaku Jurusan Hukum Rimba Ini.
" Kalau kita mh ya Sebagi mahasiswa siapa pun yang mengeluarkan kebijakan dan itu tak logis ya kita hajar tapi ingat ketika adalah permasalahan jangan tebas pucuknya dari akarnya terlebih dahuku, katanya.
malam itu aku hanya menjadi pendengar setia dia. ah tak apa pura pura bodoh dikit untuk mendapat ilmu baru.
Tak terasa kala itu aku sudah membakar rokok 4 Batang sambil menunggu hujan reda dengan mendengarkan cerita Dari mahasiswa hukum rimba ini.
Kurang lebih pukul 22.00 setelah hujan reda kami pun beranjak melanjutkan perjalan kami, bro gua duluan katanya, sambil mengulurkan tangan untuk berjabatan tangan dengan ku , iya bang semoga kita dipertemukan kembali ya..aku membalas dengan senyum kecil padanya.

Komentar