Oleh : Tinta Joung
Gugur luluh jiwa pendekar.
Aku yang terusir ...aku terusir... terusir.
Teriakan itu menggema.
Tubuh sempoyongan membabi buta.
Bruk...bruk...bruk...
Tubuh Terhempas menerjang gubuk bambu.
Hati duk...duk...duk...suara membisu.
Berdiri tegak kaki menancap di tanah.
Mata tajam menusuk sebab amarah.
Tuhan...Tuhan.
Suara menggema di langit.
Memenuhi alam semesta hingga satelit.
Tik tik tik..
Hujan mendampingi dan membasahi bumi.
Suara petir menyambar sampai ulu hati.
Alam sekitar sunyi, senyap, gelap
Suasana bagai neraka dalam cerita.
Disini ternyata pendekar bersembunyi.
Gubuk bambu yang disebut sekolah dengan anak - anak berseragam kucel, wajah polos nampak tegar seperti tak ada masalah.
Anak - anak ini luar biasa.
Semangat belajar tak seperti kita.
Lihat pancaran wajahnya.
Tak peduli meski di bodohi pemerintahnya.
Ujar pahlawan tanpa tanda jasa.
Yang sedikit menahan gejolak hati, melihat fenomena yang ada.
Ternyata kau berada di pelosok sana.
Bukan di sekolah mewah dengan gaji luar biasa.
Entah apa yang ada di benaknya
Mampu bertahan mendidik hingga lupa kebutuhan pribadinya.
Ranjaunya jalan ini.
Batu batu besar, runcing sulit di lalui.
Hutan dengan jurang, lengkaplah sudah perjuangan menguras tenaga bahkan dompet seisinya.

Komentar