Oleh : Tinta Joung
Mata yang tak mampu menangis lagi.
Jiwa manusia bagai lalat sekali tepuk mati.
Bayi - bayi itu menangis tak merasakan air susu ibu yang bertahan di antara hidup dan mati.
Seisi dunia mungkin sudah tak punya telinga.
Mata - mata itu entah kenapa.
Mungkin pura - pura tak melihat atau memang benar buta.
Bangun dari tidur Mu..!
Tatap mata mereka.
Lihat mata mereka, meratap sembari meneteskan darah di mata mengalir ke pipinya.
Tangisan keras bayi itu memanggil saudara seperjuangannya.
Tolong aku..
Tolong aku..
Tolong aku..
Jagan bunuh ibu dan baka ku.
Jangan bunuh saudara saudara ku.
Hati ku bagai tergores pisau tajam melihat mayat - mayat dibakar, digorok,di tembak, mungkin kosa kata ini masih lembut untuk kekejaman mereka.
Bayi tak berdosa.
Yang baru melihat alam semesta
Di sajikan mayat sodara, ibu dan bapa.
Merasakan derita di negri yang katanya menjunjung hak asasi manusia.
Nasi bekas dengan bau busuk Menjadi makanan terlezat yang di rasa.
Rohingya.
Lambayan tangan kurus tak terurus.
Negri yang katanya berkemanusiaan,
Hari ini terbukti hanya syair tulisan.
Indah lantunannya pembantaian Dimana-mana.
Rohingya.
Keadilan hanya fatamorgana.
Kisahmu sungguh menyayat jiwa.
Kemenangan Mu tercatat di alam sana.
Menjadikan sabar dan do'a sebagai senjata.
Bangkit lawan hancurkan.
Di sini negeri kita.
Samudera kaya raya.
Katanya merdeka.
Tak mampu membantu saudara.
Diri kita.
Mengatakan Merdeka.
Hanya kepalan di dada.
Mental merdeka tak ada.
Saudara di bantai tak berbuat apa - apa.
Bangkit, lawan, hancurkan !
Tarik lambayan tangan nya.
Jemput keadilan, berikan kepada mereka.
Damai hidup manusia seluruh Dunia.
Keadilan sosial merata.

Komentar